Loading Gitu Lho....

SELAMAT DATANG

MUDZAKARAH ENAM SIFAT PARA SAHABAT Ra.

Konsep Islamic Boarding School (Madrasah Berasrama) diyakini sebagai methode pendidikan yang paling optimal untuk dapat melahirkan generasi anak didik yang memiliki keseimbangan dalam penguasaan ilmu pengetahuan umum maupun keagamaan.

@
Menuju Generasi Islam yang ’Alim, Berjiwa Da’i, Berakhlak Mulia dan Taqwa@

Statistik


Minggu, 12 Mei 2013

Puasa di Bulan Rajab

Di awal atau saat memasuki bulan Rajab, sebagian saudara kita ada yang menyebarkan info bahwa puasa Rajab tanggal 1 akan menghapus dosa selama 3 tahun, tanggal 2 akan menghapus dosa 2 tahun, tanggal 3 akan menghapus dosa 1 tahun, tanggal 4 akan menghapus dosa selama 1 bulan, dan amal di bulan rajab akan diberi pahala 70 kali lipat. Adakah anjuran secara khusus puasa awal Rajab?

Hadits Tentang Puasa Rajab
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 213). Ibnu Rajab menjelaskan pula, “Sebagian salaf berpuasa pada bulan haram seluruhnya (bukan hanya pada bulan Rajab saja, pen). Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Ibnu ‘Umar, Al Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Sabi’iy. Ats Tsauri berkata, “Bulan haram sangat kusuka berpuasa di dalamnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 214).
Ibnu Rajab kembali berkata, “Tidak dimakruhkan jika seseorang berpuasa Rajab namun disertai dengan puasa sunnah pada bulan lainnya. Demikian pendapat sebagian ulama Hambali. Seperti misalnya ia berpuasa Rajab disertai pula dengan puasa pada bulan haram lainnya. Atau bisa pula dia berpuasa Rajab disertai dengan puasa pada bulan Sya’ban. Sebagaimana telah disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya berpuasa pada bulan haram (bukan hanya bulan Rajab saja). Ditegaskan pula oleh Imam Ahmad bahwa siapa yang berpuasa penuh pada bulan Rajab, maka saja ia telah melakukan puasa dahr yang terlarang (yaitu berpuasa setahun penuh).” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 215).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu berdasarkan hadits dusta.” (Al Manar Al Munif, hal. 49).
Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401).
Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401), Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang bisa jadi pendukung.”
Syaikh Sholih Al Munajjid hafizhohullah berkata, “Adapun mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 75394)
Puasa Hari Tertentu dari Bulan Rajab
Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya, “Diketahui bahwa di bulan Rajab dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Apakah puasa tersebut dilakukan di awal, di tengah ataukah di akhir.”
Jawaban dari para ulama yang duduk di komisi tersebut, “Yang tepat, tidaklah ada hadits yang membicarakan puasa khusus di bulan Rajab selain hadits yang dikeluarkan oleh An Nasa-i dan Abu Daud, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari hadits Usamah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah pernah melihatmu berpuasa yang lebih bersemangat dari bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Bulan Sya’ban adalah waktu saat manusia itu lalai, bulan tersebut terletak antara Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah saat amalan diangkat pada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karenanya, aku suka amalanku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad 5: 201, An Nasai dalam Al Mujtaba 4: 201, Ibnu Abi Syaibah (3: 103), Abu Ya’la, Ibnu Zanjawaih, Ibnu Abi ‘Ashim, Al Barudi, Sa’id bin Manshur sebagaimana disebutkan dalam Kanzul ‘Amal 8: 655).
Yang ada hanyalah hadits yang sifatnya umum yang memotivasi untuk melakukan puasa tiga setiap bulannya dan juga dorongan untuk melakukan puasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14, 15 dari bulan hijriyah. Juga dalil yang ada sifatnya umum yang berisi motivasi untuk melakukan puasa pada bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Begitu pula ada anjuran puasa pada hari Senin dan Kamis. Puasa Rajab masuk dalam keumuman anjuran puasa tadi. Jika engkau ingin melakukan puasa di bulan Rajab, maka pilihlah hari-hari yang ada dari bulan tersebut. Engkau bisa memilih puasa pada ayyamul bidh atau puasa Senin-Kamis. Jika tidak, maka waktu puasa pun bebas tergantung pilihan. Adapun pengkhususan bulan Rajab dengan puasa pada hari tertentu, kami tidak mengetahui adanya dalil yang mensyari’atkan amalan tersebut.
Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
السؤال : هناك أيام تصام تطوعا في شهر رجب ، فهل تكون في أوله أو وسطه أو آخره؟
جـ:
لم تثبت أحاديث خاصة بفضيلة الصوم في شهر رجب سوى ما أخرجه النسائي وأبو داود وصححه ابن خزيمة من حديث أسامة قال: (( قلت: يا رسول الله، لم أرك تصوم من شهر من الشهور ما تصوم من شعبان، قال: ذلك شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم )) [ أحمد (5 / 201)، والنسائي في [المجتبى] (4 / 201)، وابن أبي شيبة (3 / 103)، وأبو يعلى، وابن زنجويه، وابن أبي عاصم، والبارودي، وسعيد بن منصور كما في [كنز العمال] (8 / 655) ]
وإنما وردت أحاديث عامة في الحث على صيام ثلاثة أيام من كل شهر والحث على صوم أيام البيض
من كل شهر وهو الثالث عشر والرابع عشر والخامس عشر والحث على صوم الأشهر الحرم، وصوم يوم الإثنين والخميس، ويدخل رجب في عموم ذلك، فإن كنت حريصا على اختيار أيام من الشهر فاختر أيام البيض الثلاث أو يوم الإثنين والخميس وإلا فالأمر واسع، أما تخصيص أيام من رجب بالصوم فلا نعلم له أصلا في الشرع.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
الرئيس
عبدالعزيز بن عبدالله بن باز
نائب الرئيس
عبد الرزاق عفيفي
عضو
عبد الله بن عبد الرحمن بن غديان
عضو
عبد الله بن قعود
(( المصدر )) : فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء - (ج2/ص50
Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota. (Sumber Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 2: 50).

Sabtu, 12 Januari 2013

Bayan KH. Udzairon

Bayan Maghrib

Setiap manusia yang mau hidup tenang, damai, dan bahagia mereka harus mempunyai Iman yang benar. Menurut para ulama Iman itu ada rasanya, seperti gula yang rasanya manis dan garam yang rasanya asin. Kalau Iman ini tidak ada rasanya, ini berarti palsu Imannya. Nabi SAW bertanya kepada sahabat, “Bagaimana rasanya Iman kamu hari ini.” Lalu sahabat menjawab, “Saya dalam merasa betul-betul beriman ya Rasullullah.” Nabi SAW bertanya, “apa buktinya ?” Sahabat menjawab, “Saya merasa dunia ini sudah tidak ada artinya.” Sahabat ketika malam, mereka Tahajjud semalam suntuk, dan ketika siang dalam keadaan berpuasa. Sahabat tidur malam tidak yakin dapat hidup hingga pagi, bangun pagi tidak yakin bisa hidup sampai malam. Ketika melangkahkan kaki kanan rasanya tidak yakin masih bisa hidup ketika melangkahkan kaki kiri. Ketika mengucapkan salam ke kanan dalam sholat rasanya tidak yakin masih bisa memberi salam ke kiri. Inilah keimanan para sahabat, dan rasa dari Iman mereka.

Thalhah RA dipukulin oleh musuh hingga mengucapkan kata “Ah / Aduh“, Lalu Nabi SAW langsung menegurnya. Nabi SAW membuat pelurusan iman, beliau SAW bersabda mahfum, ”Andai kata kamu mengucapkan “Bismillah” ketika itu, maka kamu akan di angkat ke langit oleh Allah ta’ala dan akan diselamatkan dari orang kafir.” Inilah pendidikan keimanan yang diberikan oleh Nabi SAW kepada para sahabat. Nabi SAW ingin para sahabat ini dalam segala keadaan tawajjuh kepada Allah Ta’ala. Seperti Nabi Musa AS setiap ada masalah selalu menyelesaikan masalah dengan do’a, tawajjuh kepada Allah. Orang yang Ahlul Iman ciri-cirinya adalah selalu menyelesaikan masalah dengan do’a dan sholat. Beda dengan orang yang tidak beriman, mereka akan menyelesaikan masalahnya dengan asbab atau mahluk. Syekh Abdul Wahab selalu berkata belajar menyelesaikan masalah dengan sholat sampai sholat kita benar-benar menyelesaikan masalah. Cukup dengan sholat jika diterima ini sudah bisa menjadi asbab terselesaikan segala masalah. Jika setelah sholat kita masih ada rasa perlu menyelesaikan masalah dengan cara lain berarti yakin kita masih salah. Yakin yang benar cukup dengan sholat saja, tidak perlu yang lain, masalah dapat selesai. Asbab orang beriman untuk menyelesaikan masalah adalah amal, sedangkan yang bukan orang beriman asbab penyelesaian masalah adalah mahluk.

Semua manusia bisa percaya pada yang namanya keimanan, namun tidak semua dari mereka bisa merasakan apa itu Iman. Hari ini banyak manusia mati dalam keadaan tidak bisa merasakan Iman, ini di karenakan mereka tidak buat usaha atas Iman. Mati dalam keadaan rindu pada Allah hanya bagi yang bisa merasakan Iman. Sahabat bertanya kepada Hudzaifah RA dalam keadaan hampir meninggal, “Wahai Hudzaifah, apakah kamu menangis karena takut mati?” Hudzaifah RA menjawab, ”Tidak, aku menangis bukan karena takut mati. Aku sebenarnya mencintai mati, aku menangis karena khawatir, apakah aku mati dalam keadaan Allah Ta’ala ridha kepadaku atau tidak?” Seorang sahabat yang lain ketika menjelang ajalnya dia berkata kepada istrinya untuk tidak menangisinya karena kematiannya. Dia berkata hari kematiannya merupakan hari yang paling berbahagia baginya karena setelah mati dia akan berjumpa dengan orang yang dicintainya yaitu Allah, Rasul, dan para sahabat yang telah mendahuluinya. Sahabat bisa merasakan manisnya Iman sehingga mereka mencintai mati. Sahabat beranggapan hanya dengan kematian mereka dapat bertemu dengan yang mereka cintai yaitu Allah dan RasulNya. Saad RA pernah mengirim surat kepada panglima Persia yaitu Jendral Rustum, yang isinya, “Aku akan mengirimkan pasukan yang mencintai mati sebagaimana kalian mencintai arak.”

Hari ini setiap manusia hidup dalam ketakutan sehingga dia mati-matian usaha untuk menghilangkan rasa takutnya. Hari ini apa yang paling di takutkan manusia yaitu takut miskin dan takut susah. Sehingga asbab ketakutan ini, mereka mati-matian mengumpulkan harta. Padahal untuk menghilangkan rasa takut ini mudah saja, tidak perlu kerja mati-matian kerja, tidak perlu uang yang banyak, cukup dengan agama saja. Agama ini adalah solusi bagi seluruh rasa takut manusia. Dengan agama nanti Allah akan ganti rasa takut miskin dan rasa takut susah dengan rasa kaya dan rasa tenangnya penghuni Surga di dunia. Apa itu rasa cukup dan tenangnya penghuni surga, yaitu ketika Allah bertanya kepada mereka di surga, “Apa lagi yang kalian mau ?” maka para penghuni surga akan bingung mau apa lagi karena mereka sudah merasa mendapatkan semua yang mereka mau, sudah merasa cukup. Begitu pula dengan orang beriman yang telah Allah masukkan rasa cukup dan tenang kedalam hati mereka maka mereka akan bingung mau apa lagi. Lalu diakherat dia akan Allah jadikan orang yang kaya dan berkuasa. Allah akan buatkan istana untuknya, yang di dalam istana ini terdapat lagi 70 puluh istana, dan setiap istana mempunyai 70 kamar. Semuanya qualitas satu, dari wanita-wanitanya, makanan-makananya, pelayan-pelayannya, sampai pada kebendaannya. Dengan Agama, Allah jadikan kita manusia yang kaya di dunia dan akherat, tidak perlu susah-susah seperti di dunia.

Hari ini manusia takut sakit, sehingga mereka menggantungkan hidupnya pada seorang dokter. Padahal dokter-dokterpun kini pada sakit. Mau sehat cukup amal kan Agama, di dunia akan Allah kasih kesehatan. Suatu ketika seorang tabib keliling madinah dalam keadaan bingung, karena tidak satupun orang ada yang sakit. Nabi SAW berkata mahfum kepada dokter itu, “ini dikarenakan mereka mengamalkan sunnahku, mereka makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.” Lalu nanti di akherat Allah akan berikan kita Kesehatan yang luar biasa. Badan seperti Adam AS setinggi 30 meter, kekuatan seperti Musa AS, suara seperti Daud AS, wajah seperti Yusuf AS, dan umur seperti Isa AS.

Jadi Agama ini adalah solusi bagi seluruh rasa ketakutan dan masalah manusia. Untuk dapat mengamalkan agama ini perlu yang namanya Iman. Maulana Saad berkata, “Bagaimana Iman dan Agama bisa wujud dalam diri kita jika waktu kita sebagian besar masih digunakan untuk Dunia. Sementara waktu untuk agama hanya 2.5 Jam.” Orang memberi alasan tidak bisa mengamalkan agama karena keadaan dan lingkungan. Alasan-alasan ini tidak akan diterima di pengadilan Allah nanti. Seperti kisah :

1. Ada orang kaya mengadu pada Allah tidak bisa mengamalkan agama dengan alasan karena disibukkan oleh kekayaannya. Lalu Allah berkata, “HambaKu Sulaiman AS lebih kaya dan lebih sibuk dari kamu, tetapi kekayaan dan kesibukkannya tidak membuat dia lalai dari perintahKu.”

2. Ada orang sakit yang mengadu pada Allah tidak dapat mengamalkan agama dengan alasan karena kesehatannya tidak memungkinkan. Lalu Allah berkata, “HambaKu Nabi Ayub AS lebih sakit darimu dan lebih parah penyakitnya dibandingkan dirimu tetapi penyakitnya tidak melalaikannya dari mengingatKu.”

3. Ada orang yang semasa hidupnya menjadi budak (bahasa modernnya pembantu atau karyawan ) mengadu kepada Allah tidak dapat mengamalkan agama karena tidak bebas melakukan sesuatu. Lalu Allah berfirman, “Hambaku Yusuf AS juga pernah menjadi budak, namun keadaannya tidak melalaikan dia dari beribadah kepadaKu.”

4. Ada orang yang mengadu kepada Allah tidak dapat mengamalkan agama dengan alasan karena kemiskinannya. Lalu Allah Ta’ala berfirman, “Hambaku Isa AS lebih miskin darimu dan lebih susah kehidupannya, tetapi kemiskinan dan kesusahan yang dialaminya tidak melalaikannya dari beribadah kepadaKu.”

Sehingga nanti orang-orang yang memberikan alasan-alasan ini semuanya akan Allah seret kedalam Neraka Jahannam. Di pengadilan Allah nanti semua orang akan Allah hisab dengan keras dan cepat. Allah akan tanya mereka seperti :

1. Kemana engkau habiskan waktumu atau umurmu ?

2. Kemana engkau habiskan masa mudamu dan untuk apa ?

3. Dari mana asal hartamu dan digunakan untuk apa ?

4. Dari mana didapat ilmumu dan bagaimana pengamalannya ?

Disini Allah tidak menginginkan alasan tetapi yang Allah inginkan adalah jawaban. Tidak ada satupun alasan yang akan diterima oleh Allah. Manusia yang tidak menghabiskan waktunya untuk Allah pasti telah menghabiskan waktunya untuk selain Allah. Orang-orang yang menghabiskan waktunya atau umurnya dengan ketaatan atau amal-amal Agama maka mereka akan mudah melewati hisab. Begitu juga masa muda kita, ketika masih kuat dan sehat kemana kita telah habiskan kekuatan dan kesehatan kita dan untuk apa. Salah satu pemuda yang Allah sukai adalah pemuda yang senantiasa hatinya terpaut pada mesjidnya Allah Ta’ala. Lalu mengenai harta, harta yang di dapati dengan cara haram ini akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah. Allah akan hisab semuanya dari hasil yang dengan didapat dengan jalan haram seperti mencuri, korupsi, menipu, sampai hasil yang didapat dengan cara halal sesuai dengan perintah Allah dan sunnah Nabi SAW. Mereka yang di zalimi akan mendapatkan bagian atau atau hak atas diri kita dan amal-amal kita. Allah juga akan menghisab seluruh harta yang digunakan bukan untuk agama Allah atau menjalankan perintah Allah.

Jadi jangan sampai tertipu dengan harta seseorang, itu hanya ujian dan titipan dari Allah. Orang yang paling kaya di dunia maka dia akan menjadi orang yang paling sibuk menjawab pertanyaan Allah mengenai hartanya didapat dari mana dan kemana ia habiskan. Begitu juga mengenai Ilmu agama, Allah akan menanyakan kebenaran ilmu itu, dan didapat dari mana. Amal yang tidak disertai Ilmu tidak akan diterima oleh Allah, dan Ilmu yang tidak menambah ketakwaan orang yang berilmu akan mendatangkan Murka Allah. Ilmu yang tidak diamalkan menjadi mubazir dan bisa menjadi asbab kita bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah murka kepada kita. Allah berfirman mahfum, “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” Di akherat tidak akan diterima alasan, “Saya tidak tahu Perintahnya ?” masalahnya kenapa kita tidak cari tau.

Inti dari pengadilan Allah ini letaknya adalah dalam pengamalan Agama. Orang yang sudah biasa mengamalkan agama secara sempurna ketika hidup maka dia akan melewati Hisab dengan mudah. Kehidupan yang sukses di dunia adalah kehidupan yang dapat membawa kita masuk ke dalam surganya Allah Ta’ala. Seperti apa kehidupan yang sukses itu, yaitu kehidupan yang penuh dengan amal agama. Untuk membuat suasana kehidupan yang penuh amal agama di perlukan kerja Dakwah. Dengan Dakwah Iman akan naik, suasana amal akan wujud, akhlaq manusia akan baik, manusia akan berbondong-bondong masuk Islam, dan pertolongan Allah akan datang.

Pahala umat akhir zaman ini 50 kali derajatnya lebih tinggi dari para sahabat. Rasullullah SAW pernah bersabda mahfum, “Sungguh beruntung, beruntung, beruntung, orang yang pernah melihatku tetapi ia mau beriman kepadaku. Namun sungguh lebih beruntung (Nabi SAW menyebutnya hingga 7 kali) lagi, orang yang tidak pernah melihatku tetapi ia mau beriman kepadaku.” Dalam hadits lain Nabi SAW berkata, “Aku rindu pada kekasih-kekasihku.” Lalu sahabat bertanya, “Bukankah kami ini adalah kekasih-kekasihmu, ya Rasullullah SAW.” Nabi SAW menjawab, “Kalian adalah sahabatku, kekasihku adalah mereka yang tidak pernah bertemu denganku, tetapi mereka mengimani aku.” Nabi SAW bertanya kepada sahabat, “Iman siapakah yang paling Afdhol / utama ?” para Sahabat menajawab :

1. “Imannya para Malaikat.” Nabi SAW menjawab, “Bagaimana Iman para malaikat bisa dibilang afdhol sedangkan mereka dapat melihat dan mendengar Allah langsung.”

2. Lalu para sahabat menjawab lagi, “Imannya para Nabi.” Nabi SAW menjawab, “Bagaimana Imannya para Nabi bisa dibilang Afdol sedangkan Allah telah memberi mereka wahyu.”

3. Lalu para sahabat menjawab lagi, “Imannya para sahabat.” Nabi SAW menjawab, “Bagaimana Iman mereka (para sahabat) bisa dibilang afdhol sedangkan mereka pernah berjumpa denganku dan pernah melihat mukjizat-mukjizatku.”

4. Lalu para sahabat bertanya, “Iman siapakah yang afdhol kalau begitu ya Nabiullah.” Nabi SAW menjawab, “Yaitu mereka yang tidak bertemu dengan Allah, tidak pernah menjumpaiku, dan tidak pernah melihat mukjizat-mukjizatku tetapi mereka mau beriman kepadaku.”

Nabi SAW menganggap kita lebih beruntung dari sahabat, iman kita dinyatakan sebagai iman yang paling afdhol, dan kita ini dipanggil sebagai kekasihnya Nabi SAW. Tetapi hari ini amal perbuatan kita tidak mencerminkan orang pantas dibilang sebagai kekasih Nabi SAW, atau orang yang beruntung, atau orang yang mempunyai iman yang afdol. Karena kehidupan kita hari lebih banyak mencerimankan kehidupan musuh-musuh Nabi SAW. Untuk perkara ini perlu kita buat kerja dajwah.

Allah telah berikan kepada umat ini 3 jabatan :

1. Khalifatullah : Pemimpin Allah di muka bumi

2. Na’ib Nabi SAW : Penerus Nabi SAW

3. Warisul Kitab : Pewaris Kitab / Mandat

Allah telah wariskan dunia ini kepada orang beriman sebagai wakil Allah dimuka bumi. Bagaimana caranya menjadi wakil Allah ini ? caranya sudah Allah terangkan di dalam Al Qur’an dan di contohkan oleh Nabi SAW. Kita ini adalah wakil dan petugas-petugas Allah di muka bumi. Maka kita harus bertindak dan berlaku seperti petugas. Makan seperti petugas, tidur seperti petugas, pakaian seperti layaknya seorang petugas, kerja seperti seorang petugas, dan hidup seperti seorang petugas.

Syekh Abdul Wahab, Amir Pakistan, berkata, “Kita harus tingkatkan niat kita dari seorang da’i menjadi seorang Na’ib atau penerus Nabi.” Seseorang jika dia bisa mengajak satu orang untuk taat kepada Allah sudah bisa dibilang sebagai da’i. Tetapi yang kita perlukan adalah bukan hanya da’i tetapi Na’ib atau penerus Nabi. Kita ini penerus dakwah nabi, penerus jaulah nabi, penerus taklim nabi, penerus musyawarah nabi, penerus sholat nabi SAW, dan lain-lain. Sehingga nanti ketika kita niat untuk meneruskan sholatnya Nabi, maka Allah akan sempurnakan sholat kita seperti sholatnya Nabi SAW. Dari derajat sholatnya, kekhusyuan sholatnya, tertib sholatnya, dan lain-lain. Niatkan diri kita tinggi-tinggi karena nanti Allah akan bangkitkan kita seperti apa yang kita niatkan. Seseorang niat untuk menjadi hafidz namun belum selesai jadi hafidz dia sudah meninggal, maka nanti Allah akan bangkitkan dia bersama para hafidz. Jika kita niat untuk memahami Qur’an dan niat menyebarkan keseluruh manusia, maka nanti Allah akan buat kita faham Al Qur’an dan menyebarkannya keseluruh alam. Dalam mahfum hadits Allah berfirman, “Aku ini seperti prasangkaan hambaku terhadapku…” Jika kita niat untuk menjadi penerus nabi maka nanti Allah akan sempurnakan niat kita. Allah akan sempurnakan amal seseorang tergantung dari apa yang dia niatkan.

Allah telah berikan umat ini kitab yang utama yang menjadi penutup kitab-kitab terdahulu. Al Quran ini isinya adalah seluruh perintah Allah kepada umat ini sebagai pewaris kitab. Qur’an ini adalah mandat dari Allah kepada orang beriman untuk di pelajari, di pahami, dan di sampaikan kepada seluruh manusia sebagai panduan hidup. Dengan Qur’an ini Allah akan buat hati manusia ini tenang dan bercahaya. Qur’an ini juga akan menjadi saksi buat kita terhadap kesalahan-kesalahan umat terdahulu.

Untuk dapat menyampaikan mandat ini kepada seluruh manusia ini diperlukan kerja dakwah. Allah telah angkat derajat umat ini dengan kerja Dakwah. Allah panggil kita dengan, “Choiru Ummah”, sebaik-baiknya ummat, karena diberikan tanggung jawab Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Namun amal yang telah mengangkat derajat umat ini malah kita tinggalkan. Jika kita ke pasar tidak ada niat untuk dakwah atau minimal benci dalam hati, maka seluruh dosa orang di pasar akan kita tanggung dengan sempurna walaupun kita tidak melakukannya. Jika kita melihat rumah ibadah agama lain lalu kita ucapkan “La Illaha Illallah La Ma’buda Illallah”, maka Allah akan catat sebagai niat memberantas seluruh kejahatan dan kemusyirikan dimuka bumi. Penting kita masuk pasar baca do’a dan niat mau dakwah.

Nabi SAW di angkat ke langit setelah melalui Mujahaddah yang tinggi, Allah buka seluruh hijab antara Dia SWT dan Nabi SAW, tidak ada lagi pembatas. Hakekat Iman akan datang setelah kita melewati Mujahaddah dalam mengamalkan agama. Sahabat mengadu kepada Nabi SAW bahwa dia telah disiksa dan diperlakukan buruk oleh orang kafir, namun dia tidak pernah membalas, bahkan mendo’akan kebaikan untuk orang yang menyiksanya. Nabi SAW berkata mahfum, “Jika kamu terus berbuat itu, maka Allah akan kirim malaikat untuk bantu kita.” Orang buat salah lalu kita maafkan, maka ini adalah kesempatan masuk surga tanpa hisab. Seorang sahabat sudah dibilang sebagai penghuni surga karena amalannya sebelum tidur dia selalu memaafkan semua kesalahan orang yang mendzalimi dia.

Untuk dapat mengamalkan agama ini diperlukan keikhlasan. Orang yang mengamalkan agama tanpa keikhlasan ini seperti orang yang membawa koper berisi batu. Orang yang membawa koper ini akan terlihat seperti orang yang banyak uang, bawa koper kemana-mana. Padahal setelah di buka isinya batu, mau beli apa-apa tidak laku. Inilah orang yang mengamalkan agama tetapi tidak ada keikhlasan.

Lakukan dakwah dengan sifat Nabi SAW :

1. Sifat Sabar Nabi SAW :

Setelah Nabi SAW di tolak dakwahnya oleh orang Thaoif, Nabi SAW dihina-hina mereka, bahkan di timpuki hingga puluhan kilometer sampai keluar kota.. Namun bagaimana nabi mendo’akannya kepada Allah, “Ya Allah jangan engkau hukum umatku, ini disebabkan karena mereka tidak tahu. Ini adalah salahku karena kelemahanku dalam menyampaikan. Semoga suatu saat nanti keturunan mereka dapat memeluk agamaMu.” Inilah Akhlaq, Iqrom, Nabi SAW setelah disakiti oleh orang yang mendzoliminya.

2. Ikhlas Nabi SAW :

Nabi SAW berdo’a setelah ditimpuki dari Thoif : “Ya Allah biarkan yang lain marah kepadaku, asalkan Engkau tidak marah kepadaku, maka jika yang lain marah kepadaku tidak apa-apa (Tidak ada masalah).” Inilah keikhlasan Nabi SAW dalam berdakwah.

Manusia ini karena terbuat dari tanah sehingga mempunyai sifat yang berubah-ubah seperti tanah. Tanah ini jika kena panas dia akan kering, jika kena hujan dia akan menjadi lembek dan basah. Inilah sifat tanah selalu berubah-ubah berdasarkan keadaan. Manusia hari ini begitu imannya, masih suka terpengaruh dan berubah-ubah oleh suasana dan keadaan.

Maulana Ilyas bilang :

“Benteng terbesar bagi orang beriman ini adalah Dakwah. Hidupkan suasana dakwah maka Iman ini akan terjaga.”

Dakwah ini jika benar dilaksanakan dan tertib maka musuh bisa menjadi kawan. Sedangkan dakwah yang tidak dilaksanakan dengan benar bisa membuat kawan menjadi musuh. Jika Iman dan Amal ini benar dikerjakan maka tambah hari tammbah rindu sama yang namanya mati dan akherat. Tanda Dakwah ini benar semakin hari semakin sayang kepada umat. Nabi SAW sangking sayangnya kepada umat melihat orang meninggal tanpa iman rasanya mau hancur hati jadinya. Bagaimana risau dan fikir nabi SAW bisa masuk ke dalam diri kita ini perlu usaha, latihan, dan pengorbanan. Tujuan keluar ini adalah latihan agar risau nabi bisa menjadi risau kita, fikir nabi bisa menjadi fikir kita, kerja nabi bisa menjadi kerja kita, dan kesedihan nabi bisa menjadi kesedihan kita. Orang yang keluar terus di jalan Allah tidak mau buat Maqomi maka akan timbul sifat sombong. Tetapi orang yang hanya mengerjakan Maqomi saja dan tidak mau keluar di jalan Allah, tidak akan bisa lari dari sifat syirik. Namun jika orang tersebut keluar juga dan Maqomi juga maka akan lahir sifat Tawakkal.

Sudah menjadi ketentuan Allah siapa saja yang mau menjadi hafidz qur’an, maka langkah pertama yang dia harus lakukan adalah menyediakan waktu untuk membaca dan menghafal qur’an. Seseorang jika ingin menjadi petani maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyediakan waktu untuk bertani. Begitu juga dengan pedagang, pengusaha, dan lain-lain. Maka jika kita ingin menjadi penerus Nabi SAW, penting kita siapkan waktu untuk meneruskan kerja Nabi SAW.

Nasehat-Nasehat Para Ulama Salaf

Nasehat-Nasehat Para Ulama Salaf

Kewajiban Mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

“Sederhana dalam As-Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh di dalam bid’ah.” (Ibnu Nashr, 30, Al-Lalikai 1/88 no. 114, dan Al-Ibanah 1/320 no. 161)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:

“Tetaplah kamu beristiqamah dan berpegang dengan atsar serta jauhilah bid’ah.” (Al-I’tisham, 1/112)

Al-Imam Az-Zuhri rahimahullah berkata:

Ulama kita yang terdahulu selalu mengatakan: “Berpegang dengan As-Sunnah adalah keselamatan. Ilmu itu tercabut dengan segera, maka tegaknya ilmu adalah kekokohan Islam sedangkan dengan perginya para ulama akan hilang pula semua itu (ilmu dan agama).” (Al-Lalikai 1/94 no. 136 dan Ad-Darimi, 1/58 no. 16)

Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata:

“Berhati-hatilah kamu, jangan sampai menulis masalah apapun dari ahli ahwa’, sedikit atau pun banyak. Berpeganglah dengan Ahlul Atsar dan Ahlus Sunnah.” (As-Siyar, 11/231)

Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata:

“Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapat orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu.” (Asy-Syari’ah hal. 63)

(Lammuddurril Mantsur minal Qaulil Ma`tsur, karya Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi)

Introspeksi Diri

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya, (karenanya hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri kerena Allah Subhanahu wa ta’ala semata.”

“Adalah hisab (perhitungan amal) di Yaumul Qiyamah nanti akan terasa lebih ringan bagi suatu kaum yang (terbiasa) mengintrospeksi diri mereka selama masih di dunia, dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan.”

“Sesungguhnya seorang mukmin (apabila) dikejutkan oleh sesuatu yang dikaguminya maka dia pun berbisik: ‘Demi Allah, sungguh aku benar-benar sangat menginginkanmu, dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan. Akan tetapi demi Allah, tiada (alasan syar’i) yang dapat menyampaikanku kepadamu, maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya. Ada yang menghalangi antara aku denganmu’.”

“Dan (jika) tanpa sengaja dia melakukan sesuatu yang melampaui batas, segera dia kembalikan pada dirinya sendiri sembari berucap: ‘Apa yang aku maukan dengan ini semua, ada apa denganku dan dengan ini? Demi Allah, tidak ada udzur (alasan) bagiku untuk melakukannya, dan demi Allah aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya Allah’.”

“Sesungguhnya seorang mukmin adalah suatu kaum yang berpegang erat kepada Al Qur`an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Al Qur`an serta berpaling dari (hal-hal) yang dapat membinasakan diri mereka.”

“Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang (selalu) berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua itu.”

“Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.”

(Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 39, 40, 41)

Cinta Dunia Merupakan Dosa Besar

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Tidaklah aku merasa heran terhadap sesuatu seperti keherananku atas orang yang tidak menganggap cinta dunia sebagai bagian dari dosa besar.

Demi Allah! Sungguh, mencintainya benar-benar termasuk dosa yang terbesar. Dan tidaklah dosa-dosa menjadi bercabang-cabang melainkan karena cinta dunia. Bukankah sebab disembahnya patung-patung serta dimaksiatinya Ar-Rahman tak lain karena cinta dunia dan lebih mengutamakannya? (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 138)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:

“Telah sampai kepadaku bahwasanya akan datang satu masa kepada umat manusia di mana pada masa itu hati-hati manusia dipenuhi oleh kecintaan terhadap dunia, sehingga hati-hati tersebut tidak dapat dimasuki rasa takut terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan itu dapat engkau ketahui apabila engkau memenuhi sebuah kantong kulit dengan sesuatu hingga penuh, kemudian engkau bermaksud memasukkan barang lain ke dalamnya namun engkau tidak mendapati tempat untuknya.”

Beliau rahimahullahu berkata pula:

“Sungguh aku benar-benar dapat mengenali kecintaan seseorang terhadap dunia dari (cara) penghormatannya kepada ahli dunia.”

(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 120)

Kejelekan-kejelekan Harta

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:

‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam bersabda: “Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan, dan pada harta terdapat penyakit yang sangat banyak.”

Beliau ditanya: “Wahai ruh (ciptaan) Allah, apa penyakit-penyakitnya?”

Beliau menjawab: “Tidak ditunaikan haknya.”

Mereka menukas: “Jika haknya sudah ditunaikan?”

Beliau menjawab: “Tidak selamat dari membanggakannya dan menyombongkannya.”

Mereka menimpali: “Jika selamat dari bangga dan sombong?”

Beliau menjawab: “Memperindah dan mempermegahnya akan menyibukkan dari dzikrullah (mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala).”

(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)

Beliau rahimahullahu berkata:

“Kelebihan dunia adalah kekejian di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat.”

Beliau ditanya: “Apa yang dimaksud dengan kelebihan dunia?”

Beliau menjawab: “Yakni engkau memiliki kelebihan pakaian sedangkan saudaramu telanjang; dan engkau memiliki kelebihan sepatu sementara saudaramu tidak memiliki alas kaki.”

(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 76)

Sabar Saat Mendapat Musibah

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata:

“Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah. Betapa banyak manusia yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya. Dan betapa banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 158)

Beliau rahimahullahu juga berkata:

“Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih besar daripada menahan al-hilm (kesantunan) di kala marah dan menahan kesabaran ketika ditimpa musibah.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 62)

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:

“Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran; engkau tidak menceritakan musibah yang tengah menimpamu, tidak pula sakit yang engkau derita, serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri.” (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)

Beragam Tujuan dalam Menuntut Ilmu

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Janganlah kalian mempelajari ilmu karena tiga hal: (1) dalam rangka debat kusir dengan orang-orang bodoh, (2) untuk mendebat para ulama, atau (3) memalingkan wajah-wajah manusia ke arah kalian. Carilah apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ucapan dan perbuatan kalian. Karena, sesungguhnya itulah yang kekal abadi, sedangkan yang selain itu akan hilang dan pergi.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/45)

Ishaq ibnu Ath-Thiba’ rahimahullahu berkata: Aku mendengar Hammad bin Salamah rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mencari (ilmu, -pen.) hadits untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat makar atasnya.”

Waki’ rahimahullahu berkata:

“Tidaklah kita hidup melainkan dalam suatu tutupan. Andaikata tutupan tersebut disingkap, niscaya akan memperlihatkan suatu perkara yang besar, yakni kejujuran niat.”

Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata:

“Menuntut ilmu yang merupakan perkara yang wajib dan sunnah yang sangat ditekankan, namun terkadang menjadi sesuatu yang tercela pada sebagian orang. Seperti halnya seseorang yang menimba ilmu agar dapat berjalan bersama (disetarakan, -pen.) dengan para ulama, atau supaya dapat mendebat kusir orang-orang yang bodoh, atau untuk memalingkan mata manusia ke arahnya, atau supaya diagungkan dan dikedepankan, atau dalam rangka meraih dunia, harta, kedudukan dan jabatan yang tinggi. Ini semua merupakan salah satu dari tiga golongan manusia yang api neraka dinyalakan (sebagai balasan, -pen.) bagi mereka.”

(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 10-11, Penulis : Al-Ustadz Zainul Arifin

Larangan Berfatwa Tanpa Bimbingan Salafush Shalih

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:

“Siapa saja yang mengatakan sesuatu dengan hawa nafsunya, yang tidak ada seorang imampun yang mendahuluinya dalam permasalahan tersebut, baik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabat beliau, maka sungguh dia telah mengadakan perkara baru dalam Islam. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Barangsiapa yang mengada-ada atau membuat-buat perkara baru dalam Islam maka baginya laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima infaq dan tebusan apapun darinya’.”

Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata kepada sebagian muridnya:

“Hati-hati engkau, (jangan, -pen.) mengucapkan satu masalah pun (dalam agama pen.) yang engkau tidak memiliki imam (salaf, -pen.) dalam masalah tersebut.”

Beliau rahimahullahu juga berkata dalam riwayat Al-Maimuni:

“Barangsiapa mengatakan sesuatu yang tidak ada imam atasnya, aku khawatir dia akan salah.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata:

“Adapun para imam dan para ulama ahlul hadits, sungguh mereka semua mengikuti hadits yang shahih apa adanya bila hadits tersebut diamalkan oleh para sahabat, generasi sesudah mereka (tabi’in) atau sekelompok dari mereka. Adapun sesuatu yang disepakati oleh salafush shalih untuk ditinggalkan maka tidak boleh dikerjakan. Karena sesungguhnya tidaklah mereka meninggalkannya melainkan atas dasar ilmu bahwa perkara tersebut tidak (pantas, -pen.) dikerjakan.”

(An-Nubadz Fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 113-115, Penulis : Al-Ustadz Zainul Arifin )

Sebab Hilangnya Agama

Abdullah bin Mas’ud berkata:

“Jangan ada dari kalian taklid kepada siapapun dalam perkara agama sehingga bila ia beriman (kamu) ikut beriman dan bila ia kafir (kamu) ikut pula kafir. Jika kamu ingin berteladan, ambillah contoh orang-orang yang telah mati, sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah”.

Abdullah bin Ad-Dailamy berkata:

“Sebab pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya As Sunnah (ajaran Nabi). Agama ini akan hilang Sunah demi Sunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas”.

Abdullah bin ‘Athiyah berkata:

“Tidaklah suatu kaum berbuat bid’ah dalam agama kecuali Allah akan mencabut dari mereka satu Sunnah yang semisalnya. Dan Sunnah itu tidak akan kembali kepada mereka sampai hari kiamat”.

Az-Zuhri berkata:

“Ulama kami yang terdahulu selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As-Sunnah adalah keselamatan. Ilmu akan dicabut dengan segera. Tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia sedangkan hilangnya ilmu maka hilang pula semuanya”.

Diambil dari kitab Lammudurul Mantsur Minal Qaulil Ma’tsur yang disusun oleh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsy.

Lakukanlah Hal-hal yang Bermanfaat

‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata:

“Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya) menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”

‘Umar bin Qais Al-Mula’i rahimahullahu berkata:

“Sseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman: “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?” Luqman menjawab: “Benar.”

Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan itu?” Luqman menjawab: “Benar.”

Orang itu bertanya lagi: “Lalu apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana yang aku lihat ini?” Luqman menjawab: “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam dari perkara-perkara yang tiada berfaedah bagi diriku.”

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu bahwasanya beliau berkata:

“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”

Sahl At-Tustari rahimahullahu berkata:

“Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya niscaya diharamkan baginya kejujuran.”

Ma’ruf rahimahullahu berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala (untuknya).”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/290-294)

Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya

Abdurrahman bin Mahdi rahimahullahu berkata:

“Ada tiga (golongan) yang tidak boleh diambil ilmunya, (yakni): (1) Seseorang yang tertuduh dengan kedustaan, (2) Ahlul bid’ah yang mengajak (manusia) kepada kebid’ahannya, dan (3) seseorang yang dirinya didominasi oleh keraguan serta kesalahan-kesalahan.”

Al-Imam Malik rahimahullahu berkata:

“Tidak boleh seseorang mengambil ilmu dari empat (jenis manusia) dan boleh mengambilnya dari selain mereka (yaitu): (1) Ilmu tidak diambil dari orang-orang bodoh, (2) Tidak diambil dari pengekor hawa nafsu yang menyeru manusia kepada hawa nafsunya, (3) Tidak pula dari seorang pendusta yang biasa berdusta dalam pembicaraan-pembicaraan manusia meskipun tidak tertuduh berdusta pada hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (4) Tidak pula dari seorang syaikh yang memiliki keutamaan, keshalihan serta ahli ibadah tetapi dia tidak lagi mengetahui apa yang tengah dibicarakannya.” (n-Nubadz fi ‘Adab Thalabil ‘Ilmi, hal. 22-23)

Musibah

Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

“Menangislah kalian atas orang-orang yang ditimpa bencana. Jika dosa-dosa kalian lebih besar dari dosa-dosa mereka (yang ditimpa musibah, red), maka ada kemungkinan kalian bakal dihukum atas dosa-dosa yang telah kalian perbuat, sebagaimana mereka telah mendapat hukumannya, atau bahkan lebih dahsyat dari itu.”(Mawa’izh Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah hal. 73)

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar menjanjikan adanya ujian bagi hamba-Nya yang beriman, sebagaimana seseorang berwasiat akan kebaikan pada keluarganya.”(Mawa’izh Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah hal. 111)

“Tidak ada musibah yang lebih besar dari musibah yang menimpa kita, (di mana) salah seorang dari kita membaca Al-Qur’an malam dan siang akan tetapi tidak mengamalkannya, sedangkan semua itu adalah risalah-risalah dari Rabb kita untuk kita.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah hal. 32)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Seorang mukmin itu berbeda dengan orang kafir dengan sebab dia beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, membenarkan apa saja yang dikabarkan oleh para Rasul tersebut, menaati segala yang mereka perintahkan dan mengikuti apa saja yang diridhai dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bukannya (pasrah) terhadap ketentuan dan takdir-Nya yang berupa kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan-kemaksiatan. Akan tetapi (hendaknya) dia ridha terhadap musibah yang menimpanya bukan terhadap perbuatan-perbuatan tercela yang telah dilakukannya. Maka terhadap dosa-dosanya, dia beristighfar (minta ampun) dan dengan musibah-musibah yang menimpanya dia bersabar.”